Sesungguhnya aku tak mampu mengetahui apa yang aku rasa. Aku hanya mampu terdiam mencari jawaban atas pertanyaan yang belum aku tahu dari mana asalnya. Ada kalanya waktu itu terasa indah untuk dilewati. Tapi saat itu terasa berat untuk dilalui betapa terpuruknya aku. Apa yang mesti aku lakukan saat topangan keterpurukan itu tak ada ?
Seandainya kejujuran dapat berpihak padaku, ingin rasanya aku ungkapkan segalanya. Ungkapan tentang arti sebuah nama dalam hidupku, yang telah membelenggu hati ini hingga tak ingin berpaling pada arah yang lainnya. Aku sungguh sangat menyayangimu, tetapi aku tak kuasa untuk menjemput apa yang aku impikan. Apa yang aku rasakan mungkin tidak dapat engkau rasakan. Mungkin hanya waktu yang dapat menjawab nantinya.
Meskipun tak ada kesan yang istimewa saat pertama kali berjumpa, namun entah mengapa mampu membius sehingga membawa sejuta asa yang kini aku rasakan. Apakah tak pantas kiranya untuk aku mengikuti apa yang engkau inginkan?. aku hanya ingin jadi seseorang yang peduli, yang selalu ada, yang selalu membuat senyuman di wajahmu. Tak mengapa aku hanya menjadi tokoh yang berperan dibelakang layar. Asalkan kebahagiaan selalu terpancar dari paras pesonamu, aku sudah cukup bahagia.
04 December 2009
Menjemput cahaya…
Malam ini aku merasakan ketidakpastian yang bergelora dalam hati. Sekiranya harapan itu telah muncul untuk segera mengikuti apa yang engkau inginkan. Untaian kata-kata kiranya aku rasa menjadi sebuah petunjuk bahwasanya engkau telah mengetahui apa yang telah lama aku rasakan. Namun aku belum saja mampu untuk segera mengungkapkannya. Terasa berputar-putar kecambuk keragu-raguan mengitari fikiranku. Tetap saja aku ingin menunda mengungkapkannya padamu.
Apakah salah aku menunggu terlalu lama untuk menyatakan, bahwasanya aku menyayangimu. Mengingat waktu perkenalan kita yang belum terlalu lama, kiranya terlalu cepat apabila aku menyatakannya saat ini. Semoga engkau mampu menunggu saat itu. Aku sangat berharap pada apa yang engkau telah tunjukan. Meskipun aku takut salah mengartikan apa yang telah engkau tunjukan.
06 December 2009
Sesunyi malam tanpa sebuah pesan singkat…
Malam yang mendegupkan detak jantung saat tak aku dapatkan sedikitpun kabar berita tentang dirimu. “Terdiam dengan pandangan yang kosong” mungkin hanya itulah yang tercermin tentang diriku malam ini. Sedang apa kiranya dirimu disana?, sudahkah makan malam ini?. Teringat susunan kata-kata yang terlihat biasa namun bermakna.
Aku menghela nafas sejenak saat malam yang terus mengejar kesunyian datang mendekap dinginnya hatiku. Sedikit terpejamkan mata ini mengingat senyuman yang terpancar dalam wajahmu. Entah bagaimana sang malaikat membawakan sebuah hadiah yang menghangatkan hatiku itu. Tanpa aku sadari kerinduan menelusup ke dalam rasa yang membius diriku.
Semoga esok pagi ku kembali mendapatkan sebuah pesan singkat yang melukiskan bagaimana kabar dirimu hari itu. Mimpi indah untuk malam ini. Perasaan ini akan menyampaikan ucapan selamat malam dan akan menjagamu dalam lelapnya tidur malam ini. Senyumanku yang akan mengantarkan engkau pada pintu gerbang mimpi yang terindah.
^_^
07 December 2009
Awan mendung mejemput kesunyian…
Tampak sekumpulan awan hitam di sore hari yang menutup keindahan senja matahari terbenam. Apa yang aku rasa saat ini nampaknya telah terwakili oleh apa yang terjadi petang ini. Hancur nampaknya apa yang telah selama ini aku bangun. Runtuh segala monument hati yang telah aku susun sedemikian dengan segala harap indah. keindahan relung perasaan yang terlukis laksana mercusuar yang memberikan cahaya di malam pinggir pantai kini telah padam. Aku kembali dalam kegelapan.
Mungkin tumpahan kesalahan hanya tertuju pada diriku. Bagai seorang musafir yang mengharapkan oase di tengah panasnya padang pasir, akupun terjerumus pada bayangan yang semu. Terlalu besar harapanku saat itu. Hingga akhirnya aku menikmati perjalanan yang membuat aku terjatuh pada jurang nestapa yang memilukan ini.
Bangkit itu hal yang tak mudah saat terasa keterpurukan melumpuhkan langkah kaki. Tak ada lagi cahaya meskipun setitik sinar temeram lilin putih. Ku rasakan untuk mengakhiri perjalanan dalam kesemuan ini. Menuju titik air yang sebenarnya. Nampak sudah nyata bagiku, bahwa engkau tak memberi oase bagiku dan tak lagi menujukan harapan-harapan itu. Lebih baik aku terdiam sejenak untuk mencari mana arah yang sesungguhnya harus kutelusuri.